Home Berita Paud Meningkatkan Proses Belajar PAUD

Meningkatkan Proses Belajar PAUD

 

Oleh: Oleh Pipit Festy SKM
Dosen DPK Kopertis di Universitaas Muhammadiyah Surabaya

Pendahuluan

Kelurahan Gading berada dikecamatan Tambaksari Surabaya yang terletak sisi Utara dari pusat kota Surabaya. Lokasi ini dikenal daerah padat penduduk dimana dalam 1 wilayah kelurahan terdapat 22 Rw dengan jumlah kepala keluarga tiap RT 1300 kk. Penduduk dewasa laki-laki dan perempuan 4250 jiwa.

Struktur Kelurahan Gading menurut tingkat Pendidikan sbb:

1.Pendidikan Dasar : 20 %

2.Sekolah Lanjutan Menengah: 30 %

3.Sekolah Lanjutan Atas : 40 %

4.Perguruan Tinggi :10 %

Sedangkan susunan penduduk berdasarkan mata pencariannya sbb:

1.PNS dan ABRI : 15%

2.Swasta : 55%

3.Lain-lain : 30%

Pendidikan anak usia pra sekolah (3-6 tahun)di wilayah kelurahan Gading Kecamatan Tambaksari Surabaya diawali pada tahun 2007 pelaksanaan dalam bentuk Pendidikkan anak Usia Dini (PAUD) yang diselenggarakan oleh kelurahan yang tersebar dalam Rukun Warga (RW). Pengelolaan PAUD ini mengorganisir warga setempat sebagai kader pendidik atau tenaga pengajar. Jumlah PAUD pada wilayah Kelurahan Gading ada 17 PAUD. Jumlah Anak yang Terdaftar dalam tiap Pendidikan Anak usia Dini pada masing-masing RW adalah 100 anak Balita. Jumlah ini tergolong sangat besar bila dibandingkan dengan jumlah kader yang ada untuk melaksanakan proses belajar, dengan rasio 1 kader dengan 30 siswa.

Kegiatan Proses Belajar Pada PAUD ini sering mengalami kendala , hal ini dapat dilihat dengan adanya pengelolaan PAUD sangat sederhana. Sedangkan kualitas kadernya masih rendah yaitu tidak memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai dengan Pendidikan Guru Taman Kanak-kanak atau Pendidikan Guru Anak Pra Sekolah, serta belum semua kader pernah melaksanakan pelatihan sistem pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Pengalaman dan pendidikan seorang pendidik sangat berperan sekali dalam pengelolaan pendidikan karena berkenan dengan strategi pembelajaran Anak Usia Dini. Pengelolaan pembelajaran pada PAUD adalah sangat penting oleh karena pengelolaan PAUD bertujuan untuk menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan anak balita. Adanya droup out kader yang memiliki motivasi kurang dalam melaksanakan kegiatan oleh karena bersifat sukarela juga mempengaruhi pelaksanaan proses belajar anak prasekolah ini.

Kader tersebut hanya diberikan pengetahuan yang sangat mendasar dalam hal pembelajaran atau tentang proses pembelajaran PAUD. Dampak yang dirasakan dengan teknik pembelajaran yang monoton menyebabkan anak cepat jemu dalam kegiatan belajarnya. Selama proses kegiatan untuk supervisi dari tenaga yang ahli atau guru yang memiliki pendidikan dengan latar belakang khusus pendidikkan pra sekolah, hanya hadir dalam 1 bulan sekali untuk meninjau pelaksanaaan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di RW setempat.

Pembinaan tumbuh kembang anak pada Kelurahan Gading Kecamatan Tambaksari ini seharusnya diselenggarakan dalam bentuk kemitraan antara keluarga (orang tua, pengasuh anak dan anggota keluarga lainnya, masyarakat (kader, tokoh masyakat, dan sebagainya dengan tenaga professional (kesehatan, pendidikan dan social), akan tetapi ini belum dilaksanakan sepenuhmya oleh karena sumberdana baik materi maupun sumberdaya manusianya yang kurang terpenuhi.

Pada dasarnya Pendidikan Pra sekolah adalah merupakan Jenjeng pendidikan, dengan upaya ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilaksanakan melalui pemberian rangsangan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rokhani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Dalam Pengelolaan PAUD ini melaksanakan teknik bermain sambil Belajar.(WIKI pedia 2008)

Sedangkan Masyarakat di kelurahan Gading sebagian besar masih mempunyai pendapat bahwa pendidikan pra sekolah atau pendidikan sebelum Taman Kanak-kanak adalah dipandang tidak penting dan banyak mengeluarkan biaya hal ini karena masyarakat mempunyai pola pikir lama. Seiring dengan berkembangnya tekhnologi dan pengetahuan di Indonesia saat ini diharapkan berkembang pula pola pikir yang baru tentang anak dalam hal bermain, apalagi anak zaman sekarang lebih menonjol dari pada anak zaman dahulu dalam hal permainan, dalam bermain sendiri dibutuhkan beberapa penunjang sehingga anak merasakan kepuasan tersendiri dalam bermain contoh dari beberapa penunjang tersebut adalah alat permainan, teman dalam bermain, tempat bermain dan waktu bermain.

Untuk mengatasi permasalahan pada proses pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini di Kelurahan Gading Kecamatan Tambaksari tersebut diperlukan pelatihan Sistem Pembelajaran dengan teknik bermain pada anak pra sekolah. Namun mengingat bahwa proses belajar mengajar membutuhkan berbagai piranti maka penerapannya dapat dilaksanakan sesuai dngan kondisi PAUD yang ada.Beberapa yang perlu diperhatikan antara lain adalah Tersedianya peralatan Permainan dan kesiapan sumberdaya manusianya di wilayah Kelurahan Gading Kec.Tambaksari. Agar penerapan sistem pembelajaran ini dapat berjalan dengan baik, perlu dipersiapkan kader pendidik yang mempunyai dedikasi yang tinggi serta tanggung jawab yang besar terhadap kemajuan pendidikan Anak Usia dini.Sehingga para pengajar memiliki persepsi dan pengetahuan yang sesuai dengan tujuan dibentuknya PAUD.

Perumusan Masalah

Bermain sangat dibutuhkan bagi anak usia pra sekolah karena dengan kebutuhan bermain yang terpenuhi, anak akan merasa puas sehingga mampu memacu perkembangan psikologis anak. Akan tetapi hal ini juga harus didukung oleh peran orang tua baik dalam memenuhi kebutuhan waktu serta alat bermainnya. Dan diharapkan juga pihak yang menjadi tempat atau kelompok bermain anak.

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan jenjang pendidikan sebelum pendidikan dasar yang diselenggarakan pada jalur formal, non formal maupun informal.Dimana pendidikan formal telah memenuhi syarat dari pendidik dan kurikulum pendidikannya. Sedangkan pada PAUD sektor penyelenggara non formal maupun informal memiliki masalah masih banyak ditemukan tenaga pengajar yang belum memenuhi standar sebagai tenaga .

Yang dimaksud dengan system pembelajaran dengan metode teknik bermain Anak adalah pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rokhani agar anak memiliki kesiapan dalam pendidikan lanjut,dengan menggunakan teknik bermain yaitu mengunakan alat permainan dan bentu-bentuk permainan yang sesuai dengan tingkat dan perkembangan anak di usianya. (Yupi Supartini,2004). Dengan adanya metode seperti ini akan dapat meningkatkan kesenangan anak, sehingga akan tercipta suatu pola permainan yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak.

Tinjauan Pustaka

1. Pengertian Bermain

Bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan kebebasan batin untuk memperoleh kesenangan. (Syamsu Yusuf, 2001)

2. Pola Bermain Anak usia Pra sekolah (3 – 6 tahun)

1). Bermain dengan mainan

Pada permulaan masa awal anak – anak, bermain dengan mainan merupakan bentuk yang dominan. Minat bermain dengan mainan mulai agak berkurang pada akhir masa anak – anak pada saat anak tidak lagi membayangkan bahwa mainannya mempunyai sifat sifat hidup seperti yang dihayalkan sebelumnya.

2). Dramatisasi

Sekitar usia 3 th dramatisasi terdiri dari permainan dengan meniru pengalaman hidup. Kemudia anak bermain permainan pura pura dengan teman seumurnya atau bermainnya seperti polisi-polisian, perampok, dan lain-lain.

3). Kontruksi

Sebagian besar kontruksi yang dibuat merupakan tiruan dari apa yang dilihatnya dalam kehidupan misalnya membuat bentuk bentuk dengan balok, pasir, lumpur, tanah liat, manik, cat, krayon, dan lain-lain.

4). Permainan

Dalam tahap ke empat anak mulai lebih menyukai permainan yang dimainkan bersama teman sebayanya dari pada dengan orang-orang dewasa misalnya melempar dan menangkap bola dan lain-lain.

5).Membaca

Anak-anak lebih senang dibacakan dan melihat gambar-gambar dari buku yang sangat menarik adalah dongeng, nyanyian anak-anak, cerita tentang hewan dan kejadian sehari-hari.

6). Film, Radio dan Televisi

Anak-anak jarang melihat bioskop, tetapi ia senang film kartun, film tentang binatang dan film rumah tentang anggota keluarga, anak juga senang mendengarkan radio tetapi lebih serng melihat TV. (Developmental Psycology, 1980).

3. Kebutuhan Bermain

1). Waktu Bermain

Banyak waktu yang digunakan untuk bermain ialah relatif, tergantung pada usia maka kepuasan dari bermain semakin besar.(Elizabeth.B.Hurlock,1995)

2). Alat Bermain

Dalam menggunakan alat permainan, melakukan kegiatan-kegiatan, tempat kegiatan, ada pedoman yang harus kita teliti terlebih dahulu, seperti: seberapa banyak pengetahuan anak mengenai kegiatan tertentu; peralatan yang digunakan maupun hal lainnya.

4. Permainan dari Lingkungan Alat Anak

Dilihat dari tempat asal pengadaan alat permainan tersebut, kita dapat mengambilnya dari lingkungan alam sekitar anak. Dengan sendirinya, harus kita lihat apakah lingkungannya dipedesaan atau diperotaan.dan kita juga melihat seberapa jauh dan seberapa banyak alat yang mungkin kita dapatkan.

Misalnya;

(1). Biji-bijian

(2). Batu-batuan

(3). Bambu

Setiap alat permainaan dapat di fungsikan secara multi guna. Sekalipun masing-masing alat memiliki kekhususan, dalam artian mengembangkan aspek perkembangan tertentu pada anak, tidak jarang satu alat dapat meningkatkan lebih dari aspek perkembangan.

Alat permainan edukatif selalu dirancang dengan pemikiran yang dalam, karena melalui bermain alat tersebut, anak mampu mengembangkan penalarannya.

Fungsi Alat Edukatif

1). Alat edukatif untuk membangunTerdiri dari semua alat permainan yang dibuat dengan berbagai macam bahan seperti plastik, kayu, gabungan bermacam-macam bahan yang dapat digunakan untuk mencipta bangunan. Misalnya: Jembatan,lengkung, Jembatan, datar, Silinder, Prisma, Kubus, Tiang, Gerbang, Gedung yang menjulang tinggi, Pesawat ruang angkasa, dan sebagainya.

2) .  Alat permainan edukatif untuk melatih berbagai macam pengertian mengenai warna, bentuk dan ukuran Yang termasuk dalam kelompok ini adalah semua peralatan yang dibuat dari segala macam bahan. Misalnya kertas, plastik, kayu dan sebagainya yang dapat mengasah pengertian warna, bentuk dan ukuran yang tidak terkira dan terduga. Alat ini dapat dimainkan secara individual, berpasangan, dalam kelompok kecil atau besar, tergantung situasi dan kebutuhannya.

Beberapa contoh Alat Permainan Edukatif Untuk Melatih Bentuk dan ukuran.

1. Lotto-lotto berwarna

2. Puzzel yang terdiri dari 3-12 keping

3). Beberapa alat permainan edukatif ciptaan montessori

Montesori menciptakan sejumlah alat permainan yang memudahkan anak unuk mengingat konsep-konsep yang akan di pelajari anak tanpa terlalu di bimbing. Permainan ini juga memungkinkan anak bekerja secara mandiri. Alat di rancang sedemikian rupa sehingga anak dapat memeriksa sendiri, berarti bala salah anak akan segera menyadarinya. Sehingga dapat segera ia perbaiki.

Beberapa contoh alat permainan ciptaan montessori adalah sebagai berikut:

(1). Alat timbangan

a. Silinder dengan ukuran serial sepuluh ukuran.

b. Tongkat-tongkat desimetar, meter.dll

2. Tempat Bermain

Tempat bermain bisa dimana saja, tidak terlau lebar, dan tidak perlu ruangan khusus misalnya diruang tamu, dihalaman, atau bahkan ditempat tidurnya. (Soetjiningsih, 1995)

3. Teman Bermain

Anak harus merasa yakin bahwa ia mempunyai teman bermain yang memerlukannya, apakah itu saudaranya, orang tuanya atau temannya, karena kalau anak bermain sendiri, maka ia akan kehilangan kesempatan belajar dari teman – temannya..(Sutjiningsih, 1995)

4. Fungsi Bermain

Dibawah ini terdapat beberapa fungsi bermain yaitu :

1). Membantu perkembangan sensorik dan motorik.

Fungsi bermain pada anak ini adalah dapat dilakukan dengan melakukan rangsangan pada sensorik dan motorik melalui rangsangan ini aktivitas anak dapat mengeksplorasikan alam sekitarnya sebagai contoh bayi dapat dilakukan dengan rangsangan taktil, audio dan visual melalui rangsangan ini perkembangan sensorik dan motorik akan meningkat.

2). Membantu perkembangan kognitif.

Perkembangan kognitif dapat dirangsang melalui permainan. Hal ini dapat terlihat pada saat anak bermain, maka anak akan mencoba melakukan brkomunikasi dengan bahasa anak, mampu memahami objek permainan seperti dunia tempat tinggal, mampu membedakan khayalan dan kenyataan, mampu belajar warna, memahami bentuk ukuran dan berbagai manfaat benda yang digunakan dalam permainan.

3). Meningkatkan sosialisasi anak.

Proses sosialisasi dapat tejadi melalui permainan, sebagai contoh dimana pada usia bayi anak akan merasakan kesenangan terhadap kehadiran orang lain dan merasakan ada teman yang dunianya

4). Meningkatkan kreatifitas.

Bermain juga dapat befungsi dalam peningkatan kreatifitas, dimana anak mulai belajar menciptakan sesuatu dari permainan yang ada dan mampu memodifikasi objek yang digunakan dalam permainan.

5). Meningkatkan kesadaran diri.

Bermain pada anak akan memberikan kemampuan pada anak untuk eksplorasi tubuh dan mersakan dirinya sadar dengan orang lain yang merupakan bagian dari individu yang saling berhubungan, anak mau belajar mengatur perilaku, membandingkan dengan perilaku orang lain.

6). Mempunyai nilai terapeutik.

Bermain dapat menjadikan diri anak lebih senang dan nyaman sehingga adanya stress dan ketegangan dapat dihindarkan, mengingat bermain dapat menghibur diri anak terhadap dunianya.

7). Mempunyai nilai moral pada anak.

Bermain juga dapat memberikan nilai moral tersendiri pada anak, hal ini dapay dijumpai anak sudah mampu belajar benar atau salah dari budaya dirumah, disekolah dan ketika berinteraksi dengan temannya, dan juga ada beberapa permainan yang memiliki aturan-aturan yang harus dilakukan tidak boleh dilanggar.

10. Konsep pertumbuhan dan perkembangan Anak usia pra sekolah.

1). Pertumbuhan

Pertumbuhan adalah bertambahnya jumlah dan besarnya sel diseluruh bagian tubuh yang dapat diukur secara kuantitatif.

(Whalley dan Wong, 2000).

Yang meliputi:

(1) Berat badan

Pada usia pra sekolah kenaikan berat badan rata-rata kg/th.

(2) Tinggi Badan

Tinggi badan rata-rata pada waktu lebih adalah 50 cm. Secara garis besar, tinggi badan anak dapat diperkirakan (menurut Behrman, 1992)

(Sumber : Soetjiningsih, 1998)

Rata-rata kenaikan tingi badan anak usia pra sekolah adalah 6-8 cm / tahun.

(3). Kepala

Lingkar kepala pada waktu lahir rata-rata 34 cm dan besar lingkar kepala ini lebih besar dari lingkar dada. (Soetjiningsih, 1995).

(4). Gigi

Gigi pertama tumbuh pada usia 5-9 bulan, pada usia 1 tahun sebagian besar anak mempunyai 6-8 gigi susu. Selama satu tahun kedua gigi tumbuh 8 biji, sehingga jumlah seluruhnya sekitar 14-16 gigi dan pada umur 2 tahun sudah terdapat 20 gigi susu (Soetjiningsih,1995).

2). Perkembangan

Perkembangan adalah bertambah sempurnanya fungsi alat tubuh yang dapat dicapai melaui tumbuh kematangan dan belajar (Whalley dan Wong 2000). Menurut Erickson usia pra sekolah (3-6 tahun) termasuk dalam stadium III, yaitu stadium inisiatif versus rasa bersalah. Pada stadium ini anak sering berbicara dan bermain dengan cara brfantasi memainkan orang yang dikaguminya. Dalam bermain dengan teman-teman anak belum dapat berkerja, anak selalu ingin menang sendiri tanpa memperhatikan benar atau curang permainannya.

Bermain mempunyai manfaat yang penting bagi perkembangan anak, diantaranya:

1) Manfaat Bermain untuk Perkembangan Aspek Fisik

2) Manfaat Bermain untuk Perkembangan Aspek Motorik kasar dan Motorik halus

3) Manfaat Bermain untuk Perkembangan Aspek Sosial

4) Manfaat Bermain untuk Perkembangan Aspek Emosi atau Kepribadian

5) Manfaat Bermain untuk Perkembangan Aspek Kognisi

6) Manfaat Bermain untuk Mengasah Ketajaman Penginderaan

7) Manfaat Bermain untuk Mengembangkan Keterampilan Olahraga dan Menari

Tujuan Kegiatan

Tujuan yang hendak dicapai dengan diterapkannya Pelatihan Sistem Pembelajaran dengan metode teknik bermain anak adalah didapatkan kader atau tenaga pengajar pada PAUD yang memiliki kemampuan pengajar anak yang berkualitas dengan teknik bermain yang sesuai dengan perkembangan anak sehingga, proses belajar dan mengajar di PAUD dapat berjalan efektif dan efisien tanpa hambatan karena sudah mengetahui teknik yang tepat.

Manfaat Kegiatan

Manfaat bagi PAUD atas pelatihan system pembelajaran dengan metode teknik bermain anak adalah

1)      Penyelenggara PAUD memiliki Penguasaan kemampuan kader pendidik mengukur pertumbuhan dan perkembanagan anak yang tepat.

2)      Penguasaan pembelajaran dengan teknik bermain yang digunakan dalam pembelajaran PAUD.

3)      Bagi anak didik memiliki kesiapan yang optimal dalam memasuki pendidikan dasar.

Kerangka Pemecaha Masalah

  • START
  • PELATIHAN SISTEM PEMBELAJARAN DENGAN TEKNIK BERMAIN BAGI KADER KELURAHAN GADING KEC.TAMBAKSARI SURABAYA
  • PRE TEST
  • PELATIHAN I
  • Materi:
  • Pengukuran pertumbuhan dan perkembangan anak menggunakan Kartu Menuju Sehat & KPSP (Kwisioner pra Skring Perkembembangan)
  • PELATIHAN II

Materi:

Stimulasi Perkembangan Anak dengan Permainan

- Macam macam permainan untuk anak

- Cara memilih alat permainan yang sesuai bagi anak.

  • PELATIHAN III

Materi:

Teknik Bermain sesuai pertumbuhan dan Perkembangan

- Tahapan Mainan sesuai perkembangan anak

- Tahapan menulis sesuai perkembangan anak

  • PELATIHAN IV

Materi:

Keterampilan Pembelajaran Jenerik pada PAUD

- Menyusun rencana pembelajaran

- Strategi Pembelajaran anak usia Dini

  • SIMPULAN
  • POST TEST
  • END

Khalayak Sasaran

Khalayak sasaran strategis adalah Pengelola Pendidikan Anak Usia dini meliputi Ketua Pelaksana PAUD, dan tenaga pengajar atau kader pendidik. Khalayak sasaran antara lain diharapkan dapat menyebarkan ilmu dan pengalaman yang diperoleh dari pelatihan kepada sesama pengelola PAUD maupun kader Pendidik yang lainnya, sedangkan para tokoh masyarakat juga mendukung pelaksanaan ini.

Metode Penerapan Ipteks

Metode yang digunakan untuk mencapai kegiatan adalah Pelatihan dengan 4 Modul yaitu:

1) Modul : Pengukuran Pertumbuhan dan Perkembangan Anak

2) Modul: Stimulasi Perkembangan Anak dengan Permainan

3) Modul: Sistem pembelajaran dengan Teknik bermain anak sesuai tumbuh kembang

4) Modul: Ketrampilan Pembelajaran Jenerik (pendidikan usia dini) pada PAUD

metode pelatihan ini dengan pendekatan konstekstual melalui tanya jawab, diskusi, dan praktek lapangan atau secara langsung peragaan teknik pembelajaran metode bermain pada anak.

Pelatihan ditujukan kepada pihak pihak yang berkepentingan diantaranya Ketua pelaksana PAUD, Tenaga pengajar PAUD.

Keseluruhan 4 modul yang dilatihkan itu untuk 15 orang (5 orang ketua pengelola PAUD dan 10 orang kader pendidik (tenaga pengajar). Setiap peserta akan menerima masing-masing 1 set Modul. Pelatihan diselenggarakan dengan bantuan alat Slide Display (LCD) dan beberapa alat peraga permainan.

Rancangan Evaluasi

Evaluasi dilakukan dua kali:

1)          Tes Awal (pre test) dilakukan sebelum materi pelatihan diberikan dengan tujuan untuk mengukur tingkat pengetahuan atau pemahaman peserta mengenai teknik bermain pada proses belajar pendidikan Usia Dini (PAUD).

2)          Tes akhir (post test) dilaksanakan pada akhir kegiatan pelatihan denagn tujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan atau pemahaman peserta terhadap materi teknik bermain pada proses belajar pendidikan Usia Dini (PAUD) yang telah diterima selama pelatihan.

Adapun indicator pencapaian tujuan dan tolak ukur yang digunakan untuk menyatakan keberhasilan dari kegiatan pelatihan ini adalah:

Setelah dilakukan pelatihan system pembelajaran dengan teknik bermain anak pada PAUD dapat dikatakan berhasil apabila:

1)         Kader pendidik bisa menentukan tingkat perkembangan dan pertumbuhan anak secara cepat dan tepat menggunakan KMS (Kartu menuju Sehat) dan KPSP (Kwisioner Pra Skrining Perkembangan).

2)         Pelaksanaan pengajaran dilaksanakan dengan teknik bermain secara berkelompok pada anak sesuai dengan kelompok perkembangan dan pertumbuhannya.

3)         Pengajar dapat menciptakan pembelajaran dalam macam-macam permainan sesuai pertumbuhan dan perkembangan anak.

Adapun instrument evaluasi berupa obyektif test dan lembar observasi.

Keterkaitan

Pihak yang terkait dalam program ini adalah terutama adalah lembaga kemasyarakatan desa baik formal, informal maupun non formal yang menyelenggarakan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang tersebar banyak di seluruh Jawa Timur dan Indonesia. Pihak lain yang mendapatkan manfaat adalah Departemen dan Dinas Pendidikan Nasional, karena dengan demikian dapat memberikan pembelajaran pendidikan anak yang sesuai denagan situasi dan kondisi dengan pertumbuhan dan perkembangan anak. Serta turut mensukseskan Program pemerintah dalam pemerataaan pembelajaran. Sedangkan Universitas Muhammadiyah Surabaya dengan kegiatan pengabdian ini, dapat melakukan evaluasi atas berbagai teori tentang teknik bermain pada anak usia dini, dapat diaplikasikan ditengah masyarakat. Walaupun dalam pelaksanaan akan ditemukan kelemahan, untuk kemudian segera dilakuakan penyesuaian sebagaimana perlunya.


Pelaksanaan Kegiatan

Pelatihan Dilaksanakan di Balai RW XIX ,dari perencanaan awal yang di menjadi Peserta 15 orang yaitu yang terdiri dari Ketua PAUD dengan diikuti Kader pendidik atau disebut dengan Bunda PAUD.Namun Karena ada tambahan peserta oleh karena pada salah satu RW ada kader pendidik yang baru, peserta menjadi 19 orang.

Pelaksanaan diawali dengan kegiatan Pembukaan Pelatihan Pada tanggal 18 Juni 2009.Kegitan pelatihan diawali dengan pre test (tes awal) sebelum dilaksanakan peserta pelatihan sehingga tutor bisa memiliki strategi pembelajaran yang disesuaikan dengan kondisi peserta sebagian peserta pada tes Awal memiliki pengetahuan yang kurang.

Metode pelaksanaan kegiatan pelatihan Sistem Pembelajaran ini dengan memberikan pendidikan kepada khalayak sasaran yaitu kader pendidik atau bunda-bunda PAUD. Dalam pelaksanaan kegiatan pelatihan selain tutor dilaksanakan oleh anggota atau tim pelatihan , kami menghadirkan konsultan pendidikan anak usia dini dari wilayah Kelurahan Gading Kec. Tambaksari Suranbaya .Hal ini bertujuan memberikan persepsi yang sama dan memberikan gambaran dari bunda-bunda PAUD dalam pelaksanaan penerapan pendidikan yang nyata. Dsengan pandangan yang sama dan dukungan dari selutruh bunda-bunda PAUD dapat membantu penerimaan materi dan penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Pelaksanaan pendidikan dalam pelatihan dilaksanakan dengan metode ceramah,diskusi dan praktek.Ditunjang dengan alat bantu LCD dan Macam-macam alat permainan.

Pelaksanaan Pelatihan dilaksanakan 8 sesi dan kegiatan praktik 1 sesi membutuhkan waktu 6 minggu.

HASIL EVALUASI PRE TEST DAN POST TEST

Pelatihan 1

Pengetahuan Sebelum Pelatihan Sesudah Pelatihan

Baik 26 % 79%

Cukup 21 21%

Kurang 53% 0%

Pelatihan 2

Pengetahuan Sebelum Pelatihan Sesudah Pelatihan

Baik 15,8 % 85 %

Cukup 21 % 15 %

Kurang 63,2% 0%

Pelatihan 3

Pengetahuan Sebelum Pelatihan Sesudah Pelatihan

Baik 0% 75%

Cukup 15% 25%

Kurang 85 % 0%

Pelatihan 4

Pengetahuan Sebelum Pelatihan Sesudah Pelatihan

Baik 15 % 79%

Cukup 26% 21%

Kurang 59% 0%

Uji Wilcoxon

p= ;0,05)a0,04(

Pada pelaksanaan kegiatan Pelatihan saat praktek ada 1 materi yang dirasakan mengalami kesulitan yaitu Menu generik hal ini karena didalam menu generik adalah pelatihan mampu membuat suatu rencana pembelajaran.Peserta kurang memahami pentinggnya menerapkan menu jenerik pada saat penerapannya Dalam kenyataan dilapangan Bunda-Bunda kader kurang melaksanakan Menu generik tersebut karena terlalu rumit.mereka menganggap kegiatan mengajar PAUD adalah kegiatan rutinitas sehari.Hari.

PEMBAHASAN

Peserta yang mengikuti pelatihan seluruhya 19 orang.Dari keseluruhan pesrta hampir 60% belum pernah mengikuti pelatihan entang Bunda PAUD. Hal ini dikarenakan Pelaihan Bunda PAUD yang diadakan oleh sebelumnya Kota Madya Surabayab terbatas pelaksanaan maupun pesertanya.

Pelaksanaan pelatihan berjalan lancar sesuai dengan jadwal yang sudah disiapkan.Baik Jadwal maupun daftar hadir terlampir.

Pada pelaksanaan pelatihan peserta diberi pre test sebelum menerima materi dan dilaksanakan post test.Hasil didapatkan bahwa terdapat peningkatan pengetahuan setelah dilaksanakan pelatihan.Berdasarkan asil uji Wilcoxon pair test ;0,05 ,Ho di tolak berarti adaap=0,04  perbedaan pengetahuan sebelum dan sesudah dilakukan pelatihan.

Kesimpulan dan saran

Respon benda PAUD dikelurahan Gading Kecamatan Tambaksari sangat baik sekali.Peserta hadir 100%.Pemahaman peserta pelatihan terhadap setiap pembelajaran rata-rata mengalami kenaikan 60%.

Saran yang diberikan perlu diadakan pelatihan – pelatihan dibidang kesehatan maupun bidang studi yang lain dengan metode pelatihan yang melibatkan aktifitas peserta untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

  • Azis Alimul H, (2003). Riset Keperawatan dan Tehnik Penulisan Ilmiah, Salemba Medika, Jakarta.
  • Depdiknas (2006) Pedoman teknis Penyelenggara Pos PAUD, Jakarta.
  • Depkes RI (2005) Pedoman Pelaksanaan Stimulasi ,Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak , Jakarta.
  • Haditono Siti Rahayu, (2002). Psikologi Perkembangan, Gajah Mada University Press, Yogyakarta
  • Http: // SPS, Upi- edu. Pendidikan Anak Usia Dini, Diakses 7/03/2008
  • Mayke S. Tedjasaputra, (2001). Bermain, Mainan dan Permainan, Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.
  • Notoatmodjo, Soekidjo (2003). Pendidikan dan Perilaku Kesehatan, Rineka cipto, Jakarta.
  • Nursalam, (2003). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan, Salemba Medika, Jakarta
  • Soetjiningsih, (1995). Tumbuh Kembang Anak, EGC, Jakarta.
  • Supartini Yupi, (2004). Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak, EGC, Jakarta.
  • Seri Ayah Bunda 1(2002), Perkembangan Anak . PT. Gaya Favorit Press, Jakarta.
  • Whaley & Wong’s, (1999). Nursing Care Of Infants and Children, Sixft edition, by Mosby Inc.

Sumber:   paudkita.blog.com/

 
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner

ANDA ingin mempunyai Web baik untuk Web Usaha maupun Pribadi?

Kami siap membantu mulai Pembutan Web maupun Mengajarkan Pengoperasionalannya dengan biaya yang sangat murah. Selain itu kami juga bisa membuatkan animasi-animasi sederhana seperti yang kami contohkan di Web posyandu.org ini. Biaya 1 animasi hanya Rp 25.000. Seluruh(100%) hasil/pendapatan pembuatan Web dan Animasi digunakan untuk operasional pembiayaan Posyandu TTC.

Banner
Banner
Banner
free counters
Free counters

My site is worth$15,643.58Your website value?