Home KDRT - Human Trafficking Kisah dari Korban KDRT - Pengakuan Ibu

Kisah dari Korban KDRT - Pengakuan Ibu

Dari aku kecil aku sudah belajar dari ibu, bahwa aku harus mencari penghidupan sendiri. Sedari kecil aku biasa ikut ibu kerja serabutan, dari situ aku bisa punya penghasilan sendiri. Aku bertekad aku tak mau seperti ibu. Karena itu aku berniat untuk sekolah setinggi-tingginya. Karena ibu sering bilang padaku, bapak sering merendahkan ibu karena ibu tak berpendidikan. Karena ibu tak tamat sekolah rakyat. Aku pun sering mendengar bapak bilang “Istri saya tuh orang bodoh, nggak pernah sekolah” pada teman-teman bapak yang berkunjung ke rumah.

Jadi aku sekolah sambil bekerja. Sedari SD hingga perguruan tinggi. Diluar jam sekolah aku kerja pada tetanggaku. Kadang ada yang menyuruh ke sawah, suruh njaga anak, bersih-bersih rumah. Pekerjaan apapun aku terima. Dijam sekolah aku jualan. Jual jajanan pada teman-temanku. Dijam istirahat aku keliling ruang-ruang kelas menjajakan daganganku. Ibu yang belanja dan membungkus beraneka makanan ringan dan aku yang menjualnya. Saat kuliah pun aku sambil bekerja. Jaga wartel, jualan kue-kue dan camilan hingga memberi les pada anak-anak sekolah.

Uang yang kudapatkan dari bekerja itu tak pernah diminta oleh ibu. Walau aku kasih selalu ibu tolak. Ibu mengajariku untuk menabung. Ibu memintaku untuk memakai uang itu hanya untuk keperluan sekolah. Alhamdulillah, walau susah dan sering menangis meratapi nasib, hidup prihatin aku dapat lulus sekolah dan kuliah dengan nilai yang cukup memuaskan.

****

Kini aku sudah bekerja dan menetap di kota lain. Satu-satunya alasanku menginjakkan kaki lagi di rumah adalah ibu. Karena ibu tak mau kuajak tinggal bersamaku, maka dengan terpaksa, dengan menguatkan keberanian untuk bertemu bapak, aku pulang juga. Menengok ibu. Kadang aku dirumah 2 atau 3 hari. Dan selama itu aku tak pernah berbincang dengan bapak. Aku lebih memilih untuk menghindari kebersamaan dengan bapak.

Suatu siang saat aku ada dirumah, sedang membaca buku dikamar. Tiba-tiba aku dengar suara menggelegar bapak. “Kowe ki bojo opo musuh” (kamu itu istri apa musuh). Bergegas aku lari keluar. Aku dapati bapak sedang mengangkat kursi dan kuperkirakan akan dilemparkan ke tubuh ibu. Aku beranikan diri untuk menentang mata bapak yang melihat ke arahku. Akhirnya bapak membanting kursi itu. Aku tuntun ibu menuju kamar.

Dikamar aku biarkan ibu menangis. Aku marah, aku kesal, aku sedih. Aku marah pada ibu yang tak mau kuajak pergi. Aku marah pada bapak yang kelakuannya tak juga berubah. Aku sedih karena tak punya keberanian untuk membela ibu. Aku benci diriku sendiri karena tak punya keberanian untuk melawan bapak.

Keesokan harinya, saat bapak tak ada dirumah, ibu cerita banyak hal padaku. Ibu cerita banyak kejadian (kalau aku bilang kekejaman) yang terjadi dirumah saat aku tak ada. Kejadian saat aku masih kecil dan menurut ibu aku tak mampu mengingatnya saat ini.

Ibu bercerita bagaimana bapak menelantarkan ibu saat sedang mengandung diriku. Bapak tiap hari pergi dengan wanita lain, bersenang-senang. Ibu hanya bisa menangis. Dan kala ibu melabrak wanita lain itu, bapak malah memaki-maki ibu dihadapan wanita lain ini.

Ibu bercerita kala bapak mengalami kecelakaan dan aku masih bayi. Tak ada yang mau merawatnya. Ibu dengan setia merawat bapak. Pontang-panting mencari biaya. Ibu berharap bapak akan luluh hatinya dan sikapnya berubah. Ibu berharap bapak sadar bahwa orang yang paling memperhatikan bapak adalah ibu. Ibu berharap nantinya setelah sembuh bapak akan mengubah perilakunya pada ibu.

Tapi harapan tinggallah harapan. Tak pernah terwujud. Bapak tak pernah berubah. Aku tanya kenapa tak cerai saja. Alasan ibu adalah anak masih kecil. Saat mendengar ini aku marah dan juga merasa bersalah. Aku merasa bersalah karena alasan diriku, ibu rela tetap hidup tersiksa di rumah ini. Aku marah kenapa hanya demi aku ibu mau bertahan terus disakiti bapak.

Lalu aku tantang ibu, kini aku sudah besar. Secara ekonomi cukuplah untuk makan. Aku tantang ibu untuk meninggalkan bapak saat ini juga. Apalagi dengan kejadian kemarin. Tapi ibu tetap tak mau. Alasan ibu kali ini adalah, ibu mau setia pada bapak sampai mati. Ibu ingin merawat bapak dihari tuanya.

Alasan tak masuk akal menurutku! Kemarin saja ibu nyaris dihantam kursi. Ngapain tetap berada disini???

Ibu bilang, kalau sekarang tak ada lagi tanggungan ibu. Anak sudah besar dan bisa mandiri. Jadi ibu berani melawan bapak. Pernah suatu kali bapak hendak memukul ibu, lalu ditantang oleh ibu bahwa ibu akan melaporkan bapak. Luka memar ditubuh ibu bisa jadi bukti untuk memperkarakan bapak. Sebelumnya aku memang sering bilang pada ibu untuk melaporkan bapak pada aparat yang berwajib.

Ancaman ibu ini rupanya manjur, karena bapak adalah orang yang selalu ingin tampil sempurna di tengah masyarakat. Kalau ibu melapor, pasti nama baiknya tercemar. Kata ibu, kini bapak sudah mulai jarang marah-marah. Kadang-kadang kasih uang ke ibu tanpa diminta. Ibu berharap bapak akan semakin sadar. Ibu takut kalau ibu pergi, bapak malah akan mengancamku.

Hanya helaan napasku pada akhirnya. Itu pilihan ibu dan aku tak bisa memaksa.

Sumber: kompasiana.com

 
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner

Web Posyandu ini terbuka untuk seluruh warga TTC. Bagi siapa yang ingin memberikan kontribusinya, baik berupa artikel, opini dan lainnya, akan diberikan akses untuk posting sendiri. Untuk itu mohon memberitahukannya kepada Admin dengan memberikan Nama User dan Passwaord pribadi.

Banner
free counters
Free counters

My site is worth$15,643.58Your website value?