Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/posyandu/public_html/plugins/system/myApiConnect.php on line 71
44 Persen Perempuan Menikah Dini Alami KDRT

44 Persen Perempuan Menikah Dini Alami KDRT

Organisasi pemerhati anak Plan Indonesia meneliti dampak pernikahan dini di delapan kabupaten di Indonesia. Hasilnya, 44 persen anak perempuan yang menikah dini mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) frekuensi tinggi, sementara 55 persen frekuensi rendah.

Penelitian dilakukan di Indramayu, Jawa Barat; Grobogan, Rembang, Jawa Tengah; Tabanan, Bali; Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), Timor Tengah Selatan, Sikka, dan Lembata, Nusa Tenggara Timur. Sasarannya perempuan usia 13-18 tahun. Sebanyak 33 persen dari mereka pernah menikah di umur 15-16 tahun.

”Walaupun tidak mewakili seluruh populasi di Indonesia, temuan ini bisa menjadi gambaran kasus pernikahan dini secara umum di Tanah Air. Apalagi data ini tak jauh berbeda dengan temuan Bappenas tahun 2008, bahwa 34,5 persen dari 2.049.000 perkawinan tahun 2008 adalah perkawinan anak,” kata Bekti Andari, Gender Specialist Plan Indonesia di Jakarta, beberapa waktu lalu.

John McDonough, Country Director Plan Indonesia, menyatakan, sebagai organisasi yang fokus pada perlindungan dan pemberdayaan anak, Plan prihatin dengan tingginya angka pernikahan dini di Indonesia. Melalui sejumlah program, Plan mendorong pemberdayaan anak perempuan yang diharapkan terjadinya pernikahan dini.

Program tersebut, di antaranya pemberdayaan ekonomi keluarga, program advokasi, pendidikan dan penelitian tentang pernikahan dini, serta kampanye pemberdayaan dan partisipasi anak perempuan. Program-program ini tersebar di seluruh wilayah kerja Plan Indonesia,

“Tentu ayah, saudara laki-laki, juga suami memainkan peran penting dalam menciptakan kesetaraan gender. Karena itu, program-program pemberdayaan anak perempuan yang dimiliki Plan juga melibatkan laki-laki dewasa dan anak-anak,” kata John McDonough.

Bekti menambahkan, sebagian besar perkawinan anak melanggar hak asasi manusia karena sering terjadi unsur pemaksaan bagi anak perempuan. Lima faktor yang memengaruhi perkawinan anak, yakni perilaku seksual dan kehamilan tidak dikehendaki, tradisi atau budaya, rendahnya pengetahuan kesehatan reproduksi dan tingkat pendidikan orang tua, faktor sosio-ekonomi dan geografis, serta lemahnya penegakan hukum.

Selain KDRT, perkawinan anak membawa dampak pada aspek pendidikan, psikososial, kesehatan reproduksi, dan ekonomi. Dalam hal kesehatan, anak perempuan berusia 10-14 tahun memiliki kemungkinan meninggal lima kali lebih besar selama kehamilan atau melahirkan dibandingkan dengan perempuan berusia 20-25. Sementara yang usia 15-19 kemungkinannya dua kali lebih besar.

Di bidang pendidikan, perkawinan dini mengakibatkan si anak tidak mampu mencapai pendidikan yang lebih tinggi. Hanya 5,6 persen anak kawin dini yang masih melanjutkan sekolah setelah kawin.

Plan Indonesia juga mendorong negara dan semua kekuatan sosial mengupayakan keselarasan antara undang-undang dan peraturan pemerintah dengan sejumlah konvensi internasional yang sudah diratifikasi. Misalnya, melakukan amandemen terhadap Undang-undang Perkawinan No.1 Tahun 1974, yang isinya bertentangan dengan Konvensi Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan (UN-CEDAW) serta Konvensi Internasional Hak Anak (UN-CRC).

“Batasan umur anak juga harus diselaraskan antara UU Perkawinan, UU Kesehatan UU Kewarganegaraan UU Perlindungan Anak, dan UU lain yang relevan dengan isu anak dan perkawinan anak,” kata Bekti.

Isu mendasar yang perlu mendapat perhatian adalah berlakunya hukum perkawinan yang masih mendiskriminasikan perempuan, dengan membedakan usia minimal kawin perempuan yang lebih rendah (16 tahun) dibandingkan dengan laki-laki (19 tahun).

”Hasil studi lapangan mengungkapkan, di tingkat lokal, sering terjadi penyelewengan dalam mengimplementasikan hukum perkawinan, sehingga anak menjadi korban dan semakin kehilangan hak-haknya. Di beberapa daerah orang tua masih bisa menyuap aparat terkait untuk memanipulasi umur anaknya yang akan dinikahkan,” jelas Bekti.(IKA)

Sumber: metrotvnews.com