Home Kesehatan Kanker & Diabetes Pada Anak Mitos Penghambat Paliatif Kanker Anak

Mitos Penghambat Paliatif Kanker Anak

 

Inilah empat mitos yang menjadi hambatan dalam perawatan paliatif pada anak penderita kanker.

Mitos pertama yaitu anggapan bahwa bayi memiliki sususan saray yang immatur dan tidak merasakan nyeri seperti halnya anak yang lebih besar. "Hal ini tidak benar," tegas Prof dr Netty Hutari Tedjawinata SpAK, PGD., Pall Med Ahli Paliatif.

Pada kehamilan 26 minggu, sistem fisiologis janin telah berkembang. Saat inilah, janin dapat menerima rangsangan nyeri. Ketika bayi lahir, ia mempunyai kemampuan menerima rangsangan nyeri dan harus mendapatkan pengobatan analgetikan atau anaestetika yang tepat.

Anggapan bahwa bayi-bayi tidak memiliki nyeri hebat dan nyeri kronik seperti yang dirasakan pada orang dewasa juga salah. Sebaliknya, penelitian neurodevelopmental membuktikan bayi saat lahir belum memiliki sistem endogenous pain inhibitor yang sempurna. Neuroanatomi dan fisiologis pada anak sama dengan neuroanatomi dan fisiologi pada dewasa. Artinya, bayi pun bisa merasakan nyeri yang sama seperti para orang dewasa.

Berikutnya yang juga menjadi mitos adalah anak-anak memiliki resiko yang lebih besar dengan memakai obat opioid untuk pengobatan nyert. "Ini tidak benar. Penelitian Foley 1996 menyebutkan 1 persen dapat mengalami kecanduan. Kemingkinan ini sama dengan orang dewasa," ujar Netty.

Selain itu, profesi kesehatan dianggap tidak bisa mengukur nyeri anak. Ini juga mitos. Sebab, banyak tolok ukur untuk menentukan derajat nyeri pada anak dan bayi, baik yang preverbal dengan menggunakan penilaian perilaku maupun fisiologis. Bagi anak yang lebih besar, derajat nyeri bisa diketahui dengan komunikasi.

Menurut Netty, mitos-mitos tersebut seringkali menjadi penghambat untuk mengobat anak-anak penderita kanker. Ia pernah mendapatkan kasus orang tua yang menghentikan pengobatan kanker anaknya karena meyakini obat itu bisa menyebabkan kebodohan dan kegemukan bagi putranya.

Namun, selang setahun setelah obat dihentikan, penyakit kanker sang anak kembali kambuh. Ada penonjolan pada mata kanannya. Akhirnya pengobatan dilanjutkan. Hasilnya, sang anak bisa sembuh bahkan menempuk pendidikan tinggi di Australia dengan nilai sangat baik.

 

Sumber: suarasurabaya.com

 
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner

"Tentu saja bukan sekedar iseng. Ini satu panggilan yang sangat menyenangkan"
Bu Ida Kader dari RT 2

Banner
free counters
Free counters

My site is worth$15,643.58Your website value?