Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/posyandu/public_html/plugins/system/myApiConnect.php on line 71
Perilaku Menyusui Pengaruhi Psikologi Bayi
Home Menyusui dan Susu Perilaku Menyusui Pengaruhi Psikologi Bayi

Perilaku Menyusui Pengaruhi Psikologi Bayi

 

 

Perilaku makan saat bayi atau balita ternyata berdampak terhadap perkembangan psikologi seorang anak. Misalnya saja, perilaku dan sikap ibu selama menyusui dapat membentuk struktur kepribadian yang gelisah atau tenang. Selain itu, perilaku makan makanan tertentu pada balita dapat pula memunculkan eating problem atau kesulitan makan pada anak, seperti kebiasaan makan me-ngemut, tidak bisa makan sendiri, hingga kurang nafsu makan.

Perilaku ibu yang menyusui sambil bekerja atau melakukan aktivitas tertentu, merupakan pola makan yang kurang baik bagi balita. Pola makan seperti itu akan mempengaruhi perkembangan psikologi anak. Ibu menjadi tidak fokus dalam menyusuinya, sedangkan anak menjadi merasa tidak aman. Ini dapat menimbulkan kepribadian yang gelisah pada anak. Namun sebaliknya, kontak langsung antara ibu dan balitanya, akan menimbulkan banyak dampak yang baik. Dengan kontak mata, akan dapat membantu anak memusatkan perhatian penuh pada kegiatan menyusui. Anak akan menjadi nyaman hingga akan membentuk kepribadian yang tenang. Di samping itu, bila balita disentuh, diraba, dielus, dan diajak bicara (bernyanyi) maka akan mempercepat dan merangsang pematangan organ-organ penginderaannya.

Dalam pertumbuhannya, perkembangan pola makan balita dapat dibagi dalam beberapa tahapan. Yaitu tahap, belajar menyusu, tahap makan makanan lunak, tahap makan makanan padat dan tahap makan makanan sendiri. Setiap perkembangan membawa dampak dan pengaruh pada perilaku makan serta psikologinya.

Tahap pertama, adalah basic survival skill atau tahap belajar. Di sinilah balita belajar secara alamiah menentukan pola makan mereka. Masa ini berlangsung selama 1-2 bulan, mematangkan susunan saraf pusat yang menghabiskan sekitar 30 persen dari energi yang dibutuhkan. Usia 9-12 bulan energi yang dibutuhkan untuk pembentukan susunan saraf pusat menurun hanya 3 persen. Dari segi berat badan terjadi kenaikan sebanyak dua kali lupat pada usia 4-5 bulan, dan sebanyak 3 kali lipat pada usia 1 tahun.

Tahap selanjutnya adalah belajar makan makanan lunak. Pada tahap ini fungsi fisiologis dan struktur otaknya telah terbentuk sehingga pada balita telah dapat diberikan makanan lunak. Balita yang berusia 4-8 bulan ini, telah dapat  menggerakkan bibir, mengunyah, dan menelan makanan. Pada saat ini balita mulai me-ngemut makanan saat makan. Bila proses me-ngemut makanan saat makan ini berlangsung lama, maka dapat mengganggu sistem pencernaan. Bila pada masa ini latihan makanan lunak tidak pernah dilakukan, maka kemampuan self regulation-nya akan terabaikan. Bayi mengalami keterlambatan untuk belajar makan makanan lunak. Pada saat ini sebaiknya balita atau bayi mulai diperkenalkan terhadap rasa dan jenis makanan tertentu. Pengalaman merasakan manis, asam, pahit dan sebagainya dapat membantu pertumbuhan saraf. Selain itu, anak yang hanya memakan satu jenis makan, cenderung akan makan lebih sedikit, dibanding dengan anak yang menu makanannya lebih variatif.

Tahap ketiga, pada perkembangan pola makan anak adalah, tahap belajar makan makanan padat. Tahap ini berlangsung  dri 9-24 bulan. Pada tahap ini anak atau balita mulai perkenalkan makan makanan padat. Anak-anakpun mulai mengenal lingkungan dan bersosialisasi. Sejalan dengan perkembangan keterampilan motorik dan sosialnya, maka muncul perilaku seolah-olah menolak disuapi.

Tahap terakhir adalah tahap belajar makan sendiri. Tahap ini berlangsung dari 2-5 tahun. Pada tahap ini anak sudah dapat makan sendiri, dan kebiasaan makan makanan ringan sering sekali menjadi masalah.

Selain beberapa tahapan tersebut, masalah pengaturan jadwal makan pun, perlu diperhatikan. Karena dengan mendisiplinkan dalam pengaturan jadwal makan, sangat penting bagi perkembangan dan pertumbuhan anak. Waktu makan yang teratur akan membantu saluran pencernaan agar lebih siap untuk menerima, mencerna dan menyerap makanan pada waktu-waktu tertentu.

Kurang baik memberi susu pada saat anak tertidur

Sudah menjadi kebiasaan sebagian ibu-ibu saat menidurkan anak, yaitu memberikan susu. Bahkan ketika mereka mendengar suara tangisan anak, buru-buru 'menjejalkan' botol  susu ke dalam mulut bayi atau balita agar si kecil segera bisa kembali tidur.

Memberikan susu pada anak saat atau untuk menidurkan anak merupakan tindakan atau sikap yang kurang tepat. Sebab, perilaku makan merupakan sebuah proses pendidikan terhadap anak. Saat tidur, anak tidak sadar sehingga konsentrasi atau perhatiannya pada menyusu atau makan tidak ada. Hal ini menyebabkan efektivitas makan atau menyusunya tidak bermanfaat.

Selain itu, perilaku ini pun dapat merusak gigi. Kadar glukosa yang terdapat pada susu bisa menempel pada gigi, dan jika tidak segera dibersihkan maka akan merusak gigi. Lebih baik, jika ibu memberikan ASI karena kadar glukosanya rendah dan kemungkinan menyusuinya berlangsung dalam waktu yang singkat paling hanya 10-15 menit.

Sumber: Tabloid Aura

 
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner

" Mukanya yang mungil dan semyumnya yang lucu selalu membawa kegembiraan dan kedamaian"
Bu Juni Kader dari RT 6

Banner
free counters
Free counters

My site is worth$15,643.58Your website value?