Home Pendidikan Pendidikan Balita Keluarga dan Pembentukan Kepribadian

Keluarga dan Pembentukan Kepribadian

Keluarga dengan pembentukan kepribadian sangat berkaitan erat. Keluarga merupakan wadah pembentukan kepribadian. Proses pembentukan kepribadian seseorang terjadi dalam keluarga. Keluarga menjadi titik sentral ketika seseorang membicarakan tentang kepribadian. Kepribadian apa pun yang melekat pada seseorang dipengaruhi oleh keluarganya.

Pengertian kepribadian adalah ciri watak seorang individu yang konsisten, yang memberikan kepadanya suatu identitas sebagai individu yang mandiri. Kepribadian seseorang merupakan ciri khas yang dimiliki oleh seseorang. Kepribadian seseorang tercermin dalam tingkah laku, tindak tanduk, dan cara berpikir seseorang dalam kehidupan sehari-hari.

1. Pembentukan Karakter Sejak Usia Dini

Pembentukan kepribadian seseorang biasanya terjadi semenjak orang tersebut dilahirkan ke dunia ini. Para ahli telah menyepakati bahwa tahap-tahap awal kehidupan seseorang menjadi suatu moment atau waktu yang terpenting. Penting karena pada tahap-tahap awal ini menjadi waktu ketika seseorang meletakkan dasar-dasar kepribadian bagi dirinya. Dasar-dasar kepribadian ini nantinya akan memberikan warna bagi kehidupannya kelak ketika sudah dewasa.


Pada usia dini pula anak mulai membentuk dasar kemampuan penginderaan, dan berpikir secara sederhana. Pembelajaran tentang moral atau tentang baik buruk juga terjadi pada saat usia dini. Oleh sebab itu, sikap, kebiasaan, dan perilaku anak yang dibentuk pada tahun-tahun awal sangat menentukan sejauh mana seorang anak dapat beradaptasi (menyesuaikan  diri) pada lingkungan sosial. Hal ini juga menentukan pula sejauh mana seseorang dapat menjalani kehidupan secara baik dan harmonis ketika seseorang telah mencapai usia dewasa nanti. Usia dini menjadi tahap ketika seseorang mendapatkan rangsangan yang tepat. Karena pada usia dini ini seorang anak otaknya mengalami pertumbuhan. Seorang ibu atau orang tua mempunyai peranan penting dalam memberikan rangsangan yang baik bagi anaknya ini. Pola asuh orang tua kepada anaknya ini menentukan pola bagaimana sikap dan perilaku anak nantinya. Karena rangsangan yang diberikan oleh orang tua sejak usia dini menjadi pengalaman yang akan membentuk kepribadian anak.

2. Pola Asuh dalam Membentuk Kepribadian

Dalam sebuah keluarga, anak pertama kali belajar tentang sesuatu dari orang tuanya. Peran orang tua untuk membina dan mengasuh anak menjadi sangat penting. Orang tua menjadi tempat pertama pembelajaran anak. Apa yang dilakukan oleh orang tua, anak akan memperhatikannya. Kemudian, anak menirukan. Bila orang tua sering bertindak halus, penuh kasing sayang, dan menghargai orang lain, anak pun akan belajar hal tersebut. Sebaliknya, jika orang tua sering berbuat kasar, anak pun lambat laun akan meniru tingkah laku tindakan kasar yang biasa dilakukan oleh orang tua.

Kepribadian anak ditentukan oleh pola asuh yang dilakukan orang tua sejak anak masih kecil.
Peranan orang tua adalah memenuhi kebutuhan anak. Caranya dengan memberikan kasih sayang yang tulus, perhatian, rasa aman, dan kebutuhan lain terhadap anak. Dengan demikian, pemenuhan kebutuhan anak di usia dini dapat tercapai. Pemenuhan kebutuhan kasih sayang, perhatian, dan sebagainya ini mempunyai manfaat yang paling penting bagi anak. Oleh sebab itu, pola asuh orang tua terhadap anak mempunyai peran penting dalam membentuk kepribadian anak.
Seorang pakar anak bernama Diana Baumrinde mengemukakan tiga macam pola asuh anak, yaitu pola asuh yang otoriter (authoritaria), membolehkan (permissive), dan seimbang (authoritative).

 

a. Pola Asuh yang Otoriter (Authoritaria)
Pola asuh yang otoriter adalah pola asuh yang dilakukan oleh orang tua kepada anak yang menekankan pada kontrol. Orang tua sangat menginginkan anaknya mutlak patuh kepadanya. Mereka menginginkan anaknya mematuhi segala peraturan yang ada di keluarga. Jangan sampai sedikitpun peraturan keluarga itu dilanggar.
Apabila seorang anak secara sengaja atau tidak sengaja melanggar peraturan yang ada di keluarga, sanksi berat pun segera menghadang. Hukuman yang diterima anak atas kesalahan yang dilakukan biasanya dibuat sedemikian rupa agar anak kembali menuruti segala keinginan dan perintah orang tua.
Hukuman yang diberikan oleh orang tua yang otoriter kepada anaknya membuat anak mejadi takut, minder, menarik diri dari pergaulan. Selain itu, anak juga menjadi kurang percaya kepada orang lain. Pikirannya akan selalu diliputi rasa was-was dan tidak aman. Hal ini tentunya membuat kehidupan anak menjadi kurang baik yang pada akhirnya terbawa sampai ketika dewasa. Maka, tidak mustahil jika anak dibesarkan pada lingkungan yang otoriter, kepribadian anak menjadi kurang baik, murung, berontak, dan mungkin juga kasar.

b. Pola Asuh yang Membolehkan (Permissive)
Pola asuh yang membolehkan (permissive) adalah pola asuh yang dilakukan oleh orang tua terhadap anak dengan cara memberikan kebebasan berekspresi dan mengatur diri sendiri. Anak dibiarkan untuk mempunyai sebanyak mungkin kegiatan. Orangtua bukanlah pemberi kegiatan atau tugas. Anak sendirilah yang mencari kegiatan dan tugas sendiri dalam keluarga.


Bila anak melakukan kesalahan terhadap peraturan yang ada di keluarga anak jarang dihukum. Bila ada hukuman tidak terlalu berat. Jika anak melanggar dari kegiatan yang ia kerjakan, orang tua tidak memberikan hukuman. Sikap orang tua biasanya hangat, tidak menuntut, tidak mengontrol, tidak memaksa, dan memberikan kebebasan kepada anak.


Jika seorang anak dibesarkan di dalam keluarga yang pola asuh yang membolehkan, biasanya anak tumbuh menjadi pribadi yang kurang matang, kurang mampu menahan diri atau mengontrol diri.

 

c. Pola Asuh yang Seimbang (Authoritative)
Pola asuh seimbang (authoritative) adalah pola asuh yang dilakukan orang tua kepada anaknya dengan cara menghargai anak tapi juga menekankan pentingnya aturan dalam keluarga. Jadi, ada keseimbangan antara penghargaan kepada anak dan peraturan keluarga.


Anak tidak diatur sedemikian rupa agar sangat patuh pada orangtua. Akan tetapi, anak juga tidak dibiarkan bebas. Ada peraturan yang mengatur kehidupan anak sehari-hari dalam keluarga. Peraturan ini bukanlah penghukuman yang ditekankan, tetapi pembelajaran anak agar anak mampu menerapkan peraturan dangan benar.


Ketika anak melakukan kesalahan tidak lantas omelan yang menghadangnya. Nasihat-nasihat yang baik dan menyejukkan yang keluar dari mulut orang tuanyalah yang diterima baik oleh anak. Hukuman tidak begitu ditekankan agar anak tidak menjadi penakut. Anak tetap diberikan ekspresi yang wajar dan dibatasi oleh norma dan aturan yang ada. Tapi bukan berarti anak tidak boleh kreatif mengembangkan diri. Justru anak dituntut agar mampu mengembangkan diri sesuai dengan tahapan umur dan perkembangan otaknya.


Anak tidak dituntut untuk hal-hal yang kemungkinan anak tidak mampu mencapai. Akan tetapi, anak dibimbing dan dibina dalam menapaki kehidupan secara benar. Ada keseimbangan antara kewajiban dan hak dia sebagai seorang anak dalam keluarga. Orangtua memberikan kasih sayang dan perhatian yang membuat anak menjadi pribadi yang kuat dan berkarakter baik.


Perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh orangtua membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang baik, hangat, menyenangkan, dan dapat dipercaya. Keluarga membuat ia menjadi pribadi yang merasa aman dan bahagia. Orangtua dan keluarga menjadi sumber inspirasi bagi kehidupannya kelak ketika dia dewasa. Pola asuh yang seimbang inilah yang merupakan pola asuh yang sangat dianjurkan di banyak keluarga.

 
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner

"Tentu saja bukan sekedar iseng. Ini satu panggilan yang sangat menyenangkan"
Bu Ida Kader dari RT 2

Banner
free counters
Free counters

My site is worth$15,643.58Your website value?