Home Psikologi Anak Psikologi Anak Mengajari Anak untuk Balas Pukul Saat Dipukul, Psikolog: Itu Keliru

Mengajari Anak untuk Balas Pukul Saat Dipukul, Psikolog: Itu Keliru

 

Mengajari Anak untuk Balas Pukul Saat Dipukul, Psikolog: Itu KeliruKetika di sekolah, anak juga kerap bercanda dengan temannya. Tak jarang, ada hal-hal pada anak yang menjadi bahan candaan atau cemoohan temannya yang lain. Saat hal itu terjadi, cukup banyak anak yang balas mengejek.

Sebab, selama ini tak sedikit pula orang tua yang mengajarkan untuk membalas apa yang dilakukan orang lain pada anak. Misalnya ketika dipukul, lumrah jika anak balas memukul. Begitupun ketika diejek, wajar saja jika anak balas mengejek.

"Itu keliru. Orang tua tidak semestinya mengajarkan anak balas membalas. Karena saling balas tidak menyelesaikan apapun. Justru, sebaiknya ajarkan anak bertindak asertif," kata psikolog anak dan remaja Anna Surti Ariani, M.Psi ketika berbincang dengan detikHealth dan ditulis pada Rabu (23/9/2015).

Tindakan asertif yang bisa diajarkan pada anak, yakni ketika ia berada di sekolah dan ada teman yang menganggunya, maka anak bisa melapor pada guru. Jika seringnya selama ini ketika anak dipukul maka balas pukul, justru anak bertindak agresif, bukan asertif. Jika demikian, apa berarti anak tidak boleh marah?

"Boleh anak marah, tapi marah dengan hormat. Caranya? Tidak balas fisik tapi dia berani bilang tegas misalnya 'aku nggak suka kalau kamu pukul'. Saat anak melapor, bisa juga dilatih agar dia bisa melawan dengan hormat di mana anak diminta melakukan 'perlawanan' sendiri, dengan bantuan orang lain," kata wanita yang akrab disapa Nina ini.

Ditambahkan Nina, anak pun perlu diajari perbedaan antara mengadu dan melapor. Ketika melapor, maka tujuannya untuk memperbaiki kesalahan atau perilaku si teman dengan bantuan orang lain. Sebaliknya, mengadu memiliki tujuan supaya teman si anak nantinya bisa dihukum, dimarahin, dan bisa disalahkan oleh orang lain.

Nina mengatakan, dalam keseharian, anak memang harus diajari bergaul. Namun, anak juga perlu diajarkan jika ada orang yang tidak dikenal, maka tidak perlu ia mengkritik di depan orang tersebut. Kritikan boleh saja diberikan jika anak sudah kenal dekat dengan orang tersebut atau dalam kondisi sedang mengobrol yang enak.

"Anak kan memang bereaksi spontan saat mengungkapkan pemikirannya. Nah, mereka bisa dilatih mengungkapkan dengan bahasa yang sopan. Gendut, diedit jadi 'kamu gagah sekali', 'badanmu lebih besar dari aku ya', 'kamu memang senang sekali makan enak ya'. Selain itu, penting juga untuk ngasih contoh, di mana di depan anak pun orang tua jangan ngomongin orang lain," tutur Nina.


Sumber: health.detik.com

 
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner

" Karena dia ku dapat terenyum .... Dan karena dia ku dapat tertawa. Wajah mungil yang membawa kecerian"
Bu Agnes Kader dari RT 2

Banner
free counters
Free counters

My site is worth$15,643.58Your website value?