Home Berita Paud Investasi Pendidikan Untuk Anak - Cerminan Untuk Orang Tua

Investasi Pendidikan Untuk Anak - Cerminan Untuk Orang Tua

Siapapun pasti setuju, semua orang tua berharap kelak anaknya akan sukses di masa depan. Tidak peduli latar belakang kehidupan orang tuanya, semua orang tua ingin anak anaknya bisa lebih sukses dibandingkan orang tuanya sendiri. Sayapun setuju. Lantas akan timbul pertanyaan, bagaimana kita menyiapkan anak kita  biar bisa sukses dimasa depan? jujur sampai saat saya menulis ini masih terus mencari - cari jawabannya baik dengan membaca referensi ataupun bertanya kepada orang tua yang memiliki anak yang sudah bisa dikatakan sukses. Dan dari hasil analisa yang sudah saya pribadi lakukan, ternyata benang merah dari kebutuhan agar anak bisa sukses adalah menyiapkan pendidikan yang terbaik buat anak dari kecil. Tapi sesungguhnya itu belum bisa memuaskan saya, apa betul orang tua yang sepenuhnya menyerahkan pendidikan anak anaknya di sekolah yang terbaik bisa menjamin anak anaknya sukses di masa depan? apakah keinginan orang tua untuk menyekolahkan anak anaknya di sekolah yang terbaik adalah juga keinginan dari anak anaknya juga? bukankah anak anak juga memiliki hak untuk menentukan yang “nyaman” buat mereka jalani sendiri?

Saya melihat jaman sekarang orang tua berlomba - lomba untuk memasukkan anak anaknya sekolah dari usia sedini mungkin. Ada yang usianya baru satu tahunpun sudah dimasukkan ke sekolah. Maka tidak heran sekolah untuk anak anak sekarang menjamur dimana mana dengan berbagai metode metode yang dijanjikan terbaik untuk anak anak. Di lingkungan saya tingggalpun sekolah bertebaran dimana-mana, tinggal kita menyesuaikan dengan kemampuan financial kita. Hal inipun yang saya alami sendiri ketika akan memasukkan anak kami ke sekolah ketika usianya baru 3 (tiga) tahun. Niat awal kami memasukkan anak ke sekolah adalah biar anak dapat bersosialisasi dengan lingkungannya. Karena itu kami hanya memasukkannya ke sekolah “PAUD” yang lokasinya tidak jauh dari rumah. Kami menyadari fasilitas minim yang ada di sekolah “PAUD” tentunya akan jauh berbeda dengan sekolah yang biayanya mahal. Karena itu kami dari awal tidak berharap terlalu banyak perubahan yang terjadi pada anak kami, kami hanya berharap anak kami dapat lebih percaya diri dalam bersosialisasi.

Saya pribadi tidak ingin melewatkan kesempatan untuk dapat mengikuti perkembangan pendidikan anak. Karena menurut referensi buku yang saya baca , peran seorang ayah sangat besar dalam hal perkembangan pendidikan anak.Karena itu, saya suka menyempatkan waktu untuk mengikuti kegiatan anak disekolah “PAUD” ini. Hal yang paling saya sorot dari kekurangan “PAUD” ini adalah tidak seimbangnya jumlah murid murid dengan tenaga pengajar yang ada. Alhasil anak anak sering tidak terkontrol dengan penuh. Padahal, dengan usia anak anak yang masih dini di butuhkan pengawasan yang lebih intens. Hal kedua yang saya perhatikan dari kekurangan “PAUD” adalah kurangnya anak anak diberi kesempatan untuk lebih mengekplore dunia bermainnya anak anak. Hal ini terlihat dari seringnya kegiatan yang lebih sering dilakukan di dalam ruangan daripada di luar ruangan. Terlepas dari segala kekurangan yang ada, rasanya tidak adil kalau di “PAUD” jika tidak memiliki kelebihan. Kelebihannya yang utama adalah harga pendidikan yang “gratis”. Sayapun menilai anak kami setelah mengenyam pendidikan di “PAUD” selama hampir 1 (satu) tahun sudah bisa lebih bersosialisasi dengan teman-temannya dan menambah pembendaharaan lagunya (kebetulan anak saya senang menyanyi).

Lalu selepas dari “PAUD” kami sebagai orang tuanya mulai berfikir untuk memasukkan anak kami ke sekolah plygroup yang mempunyai fasilitas lebih. Perburuan sekolahpun kami lakukan. Hampir semua sekolah plygroup yang berada di sekitar lingkungan sudah kami datangi semua. Akhirnya ada sekolah yang sudah kami sepakati bersama untuk memasukkan anak kami ke sekolah “x” ini. Dari segi fasilitas tentunya sekolah ini memiliki kelebihan. Harapan kami membumbung tinggi kepada sekolah ini. Namun setelah melewati beberapa bulan, kami harus dihadapkan kenyataan bahwa ternyata apa yang kami harapkan tidak sepenuhnya bisa terpenuhi. Hal yang pernah kami alami di “PAUD” kembali terjadi, dimana tidak seimbangnya jumlah tenaga pengajar dengan jumlah murid yang ada. Disana satu guru memegang murid sebanyak hampir 40 orang. Walaupun tidak semuanya tergabung dalam satu hari di kelas yang sama, tetapi menurut kami gurunya menjadi tidak fokus lagi untuk bisa mengikuti perkembangan anak.

Karena alasan itulah kami lalu memindahkan anak kami ke sekolah lain selepas dari plygroup. Sebetulnya pada saat awal kami survey dulu sebelum memasukannya ke plygroup, kami memang ingin memasukkan anak kami ke sekolah ini, sebut saja “Y”, tapi sayangnya anak kami belum cukup umur untuk bisa masuk ke sekolah “Y” ini. Jadi setelah kami merasa “kecewa” dengan sekolah yang lama, kamipun memasukkan anak kami ke sekolah “y” ini. Kami lalu coba membawa anak kami sebelum pendaftaran untuk mengetahui reaksi anak kami di sekolah ini, dan kamil lihat dia merasa nyaman di sekolah ini. Setelah melewati test (jaman sekarang untuk masuk TK saja harus memakai Test seperti mau jadi Pegawai Kantoran :) ), anak kamipun alhamdulillah di terima. Namun pada saat kami hanya tinggal membayar uang masuknya (yang menurut  kami sangat mahal untuk sekolah setingkat TK) kami dihadapkan pada kenyataan apakah kami sanggup untuk memenuhi segala kewajiban yang dibebankan sekolah kepada kami mengingat saat itu kondisi ekonomi kami sedang dalam masalah. Sebenarnya ibunya sudah menginvestasikan uang pendidikan anak kami dari mulai sekolah di ply group dan aljamdulillah sebetulnya untuk membayar uang masuk ke sekolah ini sudah bisa terpenuhi. Tapi untuk 12 bulan kedepannya apa kami sanggup? setelah dengan berbagai pertimbangan yang berat akhirnya kami harus memilih opsi sekolah lain yang biayanya lebih terjangkau.

Pilihanpun jatuh pada sekolah, sebut saja sekolah “z”. Sekilas dari apa yang dijanjikan pihak sekolah bisa memenuhi harapan kami, seperti jumlah tenaga pengajar didalam kelas sebanyak 2 orang dengan jumlah maksimal 1 ruang kelas hanya 20 orang. Juga sistem bilingual dan metode belajar quran “umi” yang diterapkan di sekolah ini. Dan yang terpenting biayanya bisa terjangkau oleh kemampuan kami. Tapi ternyata ada beberapa komitmen yang tidak bisa dipenuhi sekolah “z” ini. Alhasil kamipun kembali dihadapakan pada kenyataan yang ada bahwa sekolah “z” ini tidak bisa memenuhi keinginan kami. Walaupun saya pribadi selaku ayahnya masih melihat anak kami kelihatan senang dan semangat untuk sekolah disini.  Setiap hari selalu saya bicarakan dengan anak, “nak apa kamu senang di sekolah? tadi main apa? tadi belajar apa? dan anak saya menjawab “senang dad” tadi aku main bla bla bla dengan mimik yang ceria dia menceritakan apa yang dia lakukan disekolah.  Kami hanya melihat anak kami sebetulnya masih memiliki kemampuan yang bisa di eksplor lagi di sekolahnya, tapi kami analisa di sekolah “z” ini belum mempunyai kurikulum yang baik untuk anak seusia anak kami. Kami lihat dari buku penghubung, kegiatan lebih sering dilakukan didalam kelas dan sering “menebalkan” dan “mewarnai” saja. Anakpun lebih sering belajar mengenal huruf alphabet dan angka angka saja. Sebetulnya kami tidak masalah dengan hal ini, tapi jadi terkesan anak dipaksakan tanpa ada variasi kreativitas permainan yang lain. Ini yang saya pribadi kurang setuju. Menurut saya anak anak di TK apalagi TK A harusnya pengenalan huruf atau angka harus dengan variasi permainan yang memancing kreativitas anak seperti dengan lagu lagu atau mungkin permainan kreatif yang diciptakan di sekolah. Kami khawatir lama lama anak mengalami kebosanan didalam kelas dan ujung ujungnya anak jadi malas untuk berangkat ke sekolah.

Ini yang menjadi pertimbangan buat kami langkah apa yang harus kami lakukan, apakah kami harus memindahkan lagi anak kami ke sekolah lain atau tetap di sekolah ini sampai TK B? mungkin ada teman teman yang pernah mengalami seperti ini? saran sangat berarti buat kami

Terima Kasih

 

Sumber: edukasi.kompasiana.com

 
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner

ANDA ingin mempunyai Web baik untuk Web Usaha maupun Pribadi?

Kami siap membantu mulai Pembutan Web maupun Mengajarkan Pengoperasionalannya dengan biaya yang sangat murah. Selain itu kami juga bisa membuatkan animasi-animasi sederhana seperti yang kami contohkan di Web posyandu.org ini. Biaya 1 animasi hanya Rp 25.000. Seluruh(100%) hasil/pendapatan pembuatan Web dan Animasi digunakan untuk operasional pembiayaan Posyandu TTC.

Banner
free counters
Free counters

My site is worth$15,643.58Your website value?