Home Berita Paud PAUD : Butuh Guru Laki-laki

PAUD : Butuh Guru Laki-laki

 

Pengajar pendidikan anak usia dini (PAUD) didominasi wanita, dan sangat minim guru laki-laki. Padahal, siswa PAUD sangat membutuhkan guru laki-laki sebagai figur dari manusia yang maskulin, di samping guru perempuan yang mewaliki figur feminin.

Seto Mulyadi mengatakan hal itu saat ditemui Lampung Post usai menjadi pembicara dalam Seminar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini, Sabtu (26-11).

Seminar tersebut digelar Himpunan Pendidikan Anak Usia Dini (Himpaudi) Lampung di GSG Unila bertema Menjadi pendidik kreatif, inovatif, profesional, dan berkarakter. Kegiatan ini diikuti 3.000-an guru dan menghadirkan dua pembicara, yakni Fasli Djalal dan Seto Mulyadi atau yang akrab disapa Kak Seto.

Kak Seto menekankan pentingnya guru laki-laki sebagai pengajar PAUD, seperti Pak Kasur yang sangat terkenal di dunia anak-anak. Ia tengah merancang Program Kak Seto Award bagi guru laki-laki yang mau mengajar PAUD. "Siswa PAUD perlu mengenal guru laki-laki dan perempuan beserta karakteristik dan perilaku guru tersebut sebagai salah satu pengetahuannya," kata pria berusia 60 tahun ini.

Ia mengatakan mendidik karakter anak usia dini, yakni dengan memberikan teladan tanpa kekerasan. Para guru PAUD harus lebih kreatif dan menarik dalam mengajar siswanya sehingga terbentuk karakter positif bagi siswa.

"Pada dasarnya semua anak senang belajar, jika ada anak yang tidak senang belajar, ada sesuatu yang salah pada cara guru atau orang tua dalam mengajar anak," kata Kak Seto.

Menurut dia, belajar yang paling efektif adalah belajar dalam suasana gembira. "Terdapat 8 kecerdasan anak yang harus dimaksimalkan, contohnya cerdas angka, kata, gambar, musik, tubuh, dan alam," kata dia.

Sementara itu, Fasli Djalal menjelaskan pentingnya PAUD bagi anak-anak Indonesia. Generasi penerus bangsa harus dipersiapkan dengan baik mulai dari sekarang, sesuai dengan visi bangsa 2025.

Ia menyebutkan visi bangsa 2025, yaitu mengangkat Indonesia menjadi negara maju dan merupakan kekuatan 12 besar dunia melalui pertumbuhan ekonomi tinggi yang inklusif dan berkelanjutan.

"Oleh karena itu, diperlukan penyiapan generasi yang mampu berperan aktif dalam kegiatan pembangunan," kata dia.

Fasli juga menjelaskan tentang asupan gizi yang seimbang dan pemberian stimulus bagi tumbuh kembang anak. Ia mengutip pernyataan Benjamin S. Bloom bahwa 50% kemampuan belajar seseorang adalah pada usia 0—4 tahun, yang disebut juga golden age.

 

Sumber: lampungpost.com

 
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner

" Banyak sekali cara beribadah. Dan di sini salah satunya"
Bu Dewi Kader dari RT 3

Banner
free counters
Free counters

My site is worth$15,643.58Your website value?