Home Berita Paud Belajar Pengelolaan PAUD ke China, Untuk Apa?

Belajar Pengelolaan PAUD ke China, Untuk Apa?

 

Dering telpon di pagi buta mengusik keheningan ruangan kantor, suara Ms. He nampak nyaring menyapa. Tanpa basa basi, Ms. He mengabari bahwa akan ada satu rombongan besar dari Dirjen PAUDNI Kemdikbud akan berkunjung ke Kota Wuhan Provinsi Hubei di wilayah tengah China. Dengan bergurau, beliau bertanya ’sebegitu menarikkah sistem pengelolaan PAUD kami sehingga dijadikan rujukan bagi Indonesia untuk studi banding?’. Dengan tertawa, saya tanggapi bahwa apapun dari China selalu menarik perhatian orang Indonesia, seperti juga halnya Indonesia bagi orang China menjadi bahan kajian yang serius dan dibahas dalam forum ilmiah. Menutup pembicaraan, saya sampaikan permohonan kepada Ms. He untuk menfasilitasi delegasi tersebut berkunjung ke wilayah kerjanya, seperti biasa ditengah derai renyah tawanya beliau selalu menjawab ‘mei shir’ (tidak masalah).

Pernyataan terakhir Ms.He mengganggu pikiran saya, sebegitu menarikkah kota Wuhan sehingga dijadikan rujukan benchmarking?

Pendidikan anak usia dini (PAUD) di China menjadi sangat atraktif belakangan ini, apalagi ada kebijakan satu anak satu keluarga maka harapan dan mimpi keluarga tertumpu pada sang anak. Orang tua berusaha dengan segenap daya upaya untuk pendidikan sang anak yang terbaik demi masa depannya yang menjanjikan. Orang tua berlomba-lomba menyekolahkan anaknya ke PAUD yang memiliki sarana prasarana terbaik, latar belakang pendidikan guru-nya yang terbaik pula serta sistem pendidikan unggulan. Maka tak heran bila biaya pendidikan bagi siswa PAUD di Beijing sebesar 9600 Yuan  per-tahunnya atau sebesar Rp.14.016.000,- untuk setiap siswa.

Para orang tua di China khususnya di kota besar seperti Beijing, Shanghai dan Guangzhou ingin memberikan pendidikan dini yang terbaik sebagai permulaan masa usia sekolah anaknya. Para orang tua mempercayai bahwa permulaan yang baik pertanda masa depan yang baik pula.

Pendidikan PAUD di China ada yang swasta maupun negeri (dibiayai sepenuhnya oleh pemerintah baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah). Jangan Tanya bagaimana fasilitas yang tersedia, biaya uang sekolah semahal itu tentu dapat menyediakan gedung yang megah, Guru yang terdidik sangat baik, dan program yang variatif.

Gedung sekolah PAUD (foto oleh Monica Lysack)

Pengertian PAUD menurut UU Pendidikan China adalah pendidikan untuk anak diusia 0 sampai dengan 6 tahun, dengan fase pendidikan: 0-1 tahun pendidikan bayi, 2-3 tahun pendidikan balita, dan 3-6 tahun TK. Sementara itu tujuan pendidikan usia dini dijelaskan sebagai pendidikan dasar-dasar fisik, kecerdasan dan emosional.

Persyaratan utama sebuah institusi disebut sebagai unit pendidikan PAUD adalah:

a. memiliki lahan bermain outdoor dengan luas minimal 2,5 meter persegi per-siswa. Peralatan standar di tempat ini yang harus tersedia adalah: Activities equipment; Blocks; Water table; Paddling pools; Aneka model permukaan, teksture dan ketinggian; Games tool.

Sarana bermain outdoor (Foto oleh Monica Lysack)

b. memiliki ruang belajar indoor dengan luas minimal 57 meter persegi. Peralatan standar ditempat ini diatur sesuai dengan tujuan peruntukan ruangan tersebut. Artinya setiap ruangan bisa berbeda fungsi, dan tidak statis digunakan sebagai kelas dimana siswa menghabiskan sebagian besar waktunya. Ruangan harus luas, riang, bernilai estetika,dan bersih.

Ruangan kelas indoor (Foto oleh Monica Lysack)

c. Satu kelas dibimbing oleh 3 guru. Sehingga satu guru membimbing paling banyak 5 orang siswa.

Satu kelas dibimbing 3 guru (foto oleh Monica Lysack)

d. Terdapat ruangan untuk tidur siang atau bermalam bila diperlukan. Hal tersebut menjadi persyaratan karena waktu belajar siswa PAUD di China lebih lama dibandingkan dengan siswa PAUD di Indonesia. Lebih kurang antara 5-6 jam per-harinya.

Kamar tidur (Foto oleh Monica Lysack)

Setiap anak disediakan 1 tempat tidur dengan suasana yang rileks dan hangat. Tujuan disediakan 1 tempat tidur per-anak agar siswa dibiasakan sejak kecil memiliki rasa memiliki dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri.

Sarana WC (foto oleh Monica Lysack)

e. Terdapat fasilitas WC dengan pintu masuk yang dapat di akses dengan mudah dari berbagai ruangan.

Gudang penyimpanan alat dan bahan (foto oleh Monica Lysack)

f. Gudang. Ruangan ini berfungsi sebagai tempat menyimpan peralatan, bahan serta mainan. Mainan dan benda kerajinan yang dibuat sendiri oleh gurunya dan siswa disimpan di ruangan tersebut.

Ruang klinik kesehatan (foto oleh Monica Lysack)

g. Memiliki ruang klinik kesehatan dengan dokter tetap yang mengunjungi sekolah secara teratur 1 kali seminggu.

Ruang makan (foto oleh Monica Lysack)

h. Memiliki fasilitas ruang makan. Di ruangan ini disediakan papan menu makanan setiap hari-nya yang menunjukkan jumlah nutrisi makanan yang akan dihidangkan setiap minggunya.

Lorong aktivitas (foto oleh Monica Lysack)

i. Pusat Aktivitas. Biasanya lorong kelas digunakan sebagai ruang aktivitas. Lorong ini minimal terdapat alat peraga konsep matematika.

Project approach (foto oleh Monica Lysack)

Selain sarana tersebut diatas, ada kewajiban bagi sekolah untuk mengadopsi kurikulum PAUD versi pemerintah yang lebih dikenal sebagai kurikulum project approach. Mata pelajarannya adalah: Sosial, Seni, Olah raga, Bahasa, dan Social development.

Mari sejenak merenung, wara-wiri tim delegasi studi banding PAUD  ke manca negara tentunya akan membawa ilmu pengelolaan PAUD yang beraneka ragam. Muncul pertanyaan, mau dibawa kemana sistem pendidikan PAUD kita?, minimal membayangkan seperti apa generasi Indonesia yang kita inginkan di masa depan nanti. Setiap negara tentunya memiliki latar belakang budaya dan falsafah hidup berbeda yang akan sangat mempengaruhi sistem pendidikan PAUD-nya.

 

Sumber:  edukasi.kompasiana.com

 
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner

" Rasanya ingin kembali menjadi Balita. Polos ... apa adanya ... tanpa beban"
Bu Anto Kader dari RT 1

Banner
free counters
Free counters

My site is worth$15,643.58Your website value?